Page 59 - Menyusun Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan #1
P. 59
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,
Riset, dan Teknologi
Contoh Kurikulum Operasional SMP Model 6
Karakteristik Sekolah
Kurikulum Operasional SMP Model 6 disusun sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Kurikulum Operasional Sekolah (KOS) ini dikembangkan dengan mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP) yang telah
disusun secara Nasional kemudian diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran berdasar Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang telah disusun. Penyusunan Kurikulum Operasional SMP Model 6 ini mengakomodir kebutuhan para
pelajar untuk mengembangkan kemampuan keterampilan Abad 21 yang meliputi integrasi PPK, literasi 4C (Creative, Critical thinking, Communicative, dan Collaborative), dan HOTS (High Order Thinking Skill).
Berdasarkan analisis konteks yang dilakukan, SMP Model 6 sebagai satuan pendidikan yang diminati mayoritas penduduk di kota sekitar, dengan potensi wilayah/letak yang strategis di tengah perkotaan memiliki beberapa kekuatan, di
antaranya: 1) input peserta didik berasal dari keluarga yang peduli terhadap kepentingan pendidikan; 2) lingkungan gedung perkantoran yang memudahkan sekolah untuk melakukan koordinasi dan komunikasi; 3) kultur masyarakat
Madiun yang bernuansa ke-Mataraman (perpaduan budaya Jawa Tengah dan Jawa Timur); 4) sarana pendukung layanan proses pembelajaran yang memadai; 5) merupakan salah satu sekolah rujukan yang terletak di jantung kota
dengan lingkungan yang asri dan rindang; dan 6) letak sekolah sangat strategis karena akses yang mudah.
Selain kekuatan/kelebihan sebagaimana tersebut di atas, SMP Model 6 juga mempunyai beberapa kelemahan, yaitu: 1) sarana pendukung untuk pengembangan potensi/skills yang terbatas (tidak memiliki lapangan olahraga yang
sesuai standar SNP); dan 2) laboratorium IPA yang kurang representatif; namun hal tersebut tidak mengurangi semangat warga sekolah dalam belajar. Hal ini dibuktikan dengan prestasi yang pernah diperoleh baik itu akademik
maupun non-akademik.
Masyarakat di sekitar SMP Model 6 sebagian besar adalah pegawai pemerintahan, BUMN, pegawai swasta dan sebagian lain adalah pedagang serta wiraswasta. Sebagai sekolah yang berada pada lingkungan perkotaan dan input
peserta didik yang mayoritas dari dalam kota, serta kondisi kota yang tidak begitu luas dengan tidak memiliki sumber daya alam yang luas pula, maka profil pelajar yang dihasilkan adalah pelajar yang memiliki potensi mengkreasi ide
dan keterampilan untuk mewujudkan daerahnya menjadi destinasi wisata wirausaha. Wisata wirausaha tersebut di antaranya adalah kerajinan batik, kuliner khas daerah, dan taman buatan kota. Dalam rangka meningkatkan potensi
tersebut, SMP Model 6 mengadakan kerjasama dengan dunia usaha dan sumber daya alam/lingkungan lain seperti yang ada di kota.
Kota di mana SMP Model 6 berlokasi, juga mempunyai budaya daerah yang menjadi ciri khas yaitu pendekar. Dalam rangka mewujudkan budaya daerah terssebut, maka diwadahi dalam suatu kegiatan dengan nama “TUGU
PENDIKAR SAKTI” (SaTU Guru sebagai PENDIdik KARakter yang menghasilkan Satu Karya presTasI peserta didik). Kegiatan ini dimaksudkan untuk menggali potensi pendidik dan peserta didik dalam pembentukan karakter peserta
didik yang mampu bersaing dalam dunia global.
Untuk memberikan layanan kebutuhan dan tuntutan masa depan peserta didik agar menjadi insan yang memiliki kemampuan daya saing di era generasi 4.0, dengan tetap menjunjung tinggi nilai luhur bangsa yang tersirat dalam sila-
sila Pancasila serta mengembangkan cinta budaya daerah dan bangsa, maka SMP Model 6 menyusun Kurikulum Operasional sesuai dengan karakteristik peserta didik dan budaya lokal daerah setempat.
Peserta didik SMP Model 6 diharapkan mempunyai life skills yang berguna dan mampu mengaplikasinnya dalam masyarakat dan dunia pendidikan. Sehingga harapan dari Pemerintah Kota Madiun untuk mencetak generasi yang
mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman akan terwujud. Salah satu upaya untu mencapai harapan tersebut dilakukan melalui kreasi budaya literasi pada peserta didik. Sehingga peserta didik mampu menghasilkan salah satu
karya yang mencerminkan Profil Pelajar Pncasila yang mampu bernalar kritis dan berkebhinekaan global. Capaian pembelajaran yang diharapkan adalah terciptanya profil pelajar yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME dan
berakhlak mulia, yang mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong-royong dan berkebhinekaan global.
Secara yuridis, Kurikulum Operasional SMP Model 6 disusun dengan mengacu pada peraturan perundangan terkait pendidikan yang berlaku, baik itu dari pusat ataupun dari daerah. Sedangkan secara pedagogis, Kurikulum
Operasional SMP Model 6 mengacu pada kemampuan guru sebagai tenaga profesional dalam pembelajaran dan penilaian.
Peningkatan profesionalisme guru, dilakukan dalam bentuk pelatihan besifat praktik secara berkesinambungan. Hal tersebut merupakan komitmen untuk menjadi profesional dalam layanan pada peserta didik.
Dengan mengambil salah satu nilai pendidikan dari Ki Hajar Dewantara yaitu 3N: NITENI (mengamati dengan teliti), NIROKKE (mencoba dengan cara meniru), NAMBAHI (mengembangkan dari yang telah ditiru/yang telah ada) ,dan
dengan mempertimbangka tuntutan di era 4.0, maka ditambahlah N yang keempat, yaitu NGGAWE (mencipta/membuat/menghasilkan/menemukan hal baru). 4N tersebut merupakan ciri khas pembelajaran yang akan dilakukan oleh
peserta didik bersama guru di SMP Model6.
Hal lain, dari perspektif pedagogis, yang dijadikan pertimbangan adalah Undang-Undang Guru dan Dosen yang menyebutkan bahwa guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan
belajar sepanjang hayat. Dari landasan pedagogis dalam konteks Merdeka Belajar, proses belajar di SMP Model 6 berorientasi pada peserta didik dan bentuknya beragam, pembelajaran sebagai aktivitas tim yang bersifat kolaboratif.
Pembelajaran di SMP Model 6 yang terintegrasi dengan Profil Pelajar Pancasila secara umum bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik yang bertaqwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global,
mandiri, bernalar kritis, bergotong-royong dan kreatif, inovatif, yang mampu mengkreasikan ide/gagasan berdasarkan kekhasan daerah ayng tetap berakr pada budaya bangsa.

