Page 84 - Menyusun Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan #1
P. 84
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,
Riset, dan Teknologi
Contoh Kurikulum Operasional SMALB Model 13
Karakteristik Satuan Pendidikan
Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Model 13 (SMALB Model 13) merupakan satuan pendidikan yang berada dalam pengelolaan satu atap bersama dengan jenjang Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) dan Sekolah Menengah Pertama Luar
Biasa (SMPLB) di bawah kepemimpinan seorang Kepala Sekolah Luar Biasa.
Sekolah berada di wilayah Kota Administrasi Jakarta Barat yang merupakan bagian dari wilayah Provinsi DKI Jakarta. Kondisi geografis berupa dataran rendah yang terletak 7 meter dari permukaan laut dengan luas wilayah 129,54 km2.
Kepadatan penduduk 19.592 jiwa per km persegi yang merupakan kota terpadat kedua setelah Jakarta Pusat di wilayah Provinsi DKI Jakarta. (Sumber data: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Prov DKI Jakarta Tahun 2020)
Jakarta Barat merupakan salah satu wilayah pusat industri di Jakarta, ditandai dengan terdapat banyaknya pabrik-pabrik pengolahan industri ringan, tekstil, maupun bahan-bahan kimia. Pusat perbelanjaan besar baik tradisional maupun
modern dan juga sentra ikan hias berada dekat dengan sekolah. Keberadaan sentra perekonomian tersebut memberikan peluang yang besar bagi sekolah untuk menyiapkan sumber daya manusia baik dalam bidang pengadaan barang
maupun jasa.
Dukungan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat terhadap keberadaan SMALB Model 13 melalui Kelurahan dan UMKM berupa pemberian 2 kios yang tergabung dengan pasar tradisional sangat menunjang pengembangan
kewirausahaan peserta didik khususnya kegiatan penjualan hasil keterampilan di antaranya hasil cetak sablon (kaos, mug, dan keramik), hasil tata boga (kue kering, juice, dan jenis makanan lainnya), dan hasil tata busana (linen dapur,
linen ruang makan dan linen ruang tamu). Lingkungan sekolah yang tergabung dengan dua SDN dalam satu lokasi memberikan kesempatan bagi peserta didik beradaptasi di masyarakat majemuk dengan latar belakang suku, ras,
pendidikan, dan profesi yang sangat beragam. Oleh sebab itu sangat diperlukan sikap saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Faktor pendukung lainnya terhadap pengembangan SMALB Model 13 adalah ketersediaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang kompeten dengan kualifikasi akademik minimal S1 dan sebagian besar berusia relatif muda dengan
penguasaan IT yang baik. Prestasi yang diraih peserta didik pada berbagai ajang kompetisii bidang olahraga, seni, dan keterampilan baik di tingkat wilayah, provinsi, maupun nasional merupakan indikator bahwa peserta didik memiliki
potensi unggul yang perlu terus dipupuk dan dikembangkan.
Di samping beberapa faktor pendukung di atas terdapat beberapa persoalan yang merupakan tantangan yang harus dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Persoalan-persoalan tersebut antara lain ketersediaan sarana
dan prasarana yang belum memadai antara lain bangunan gedung yang belum aksesibel dan rusak karena termakan usia, ruang keterampilan yang masih jauh dari ideal, lingkungan yang sering banjir sehingga merusak peralatan sekolah,
dan sering timbulnya aroma tak sedap akibat tumpukan sampah di pasar tradisional. Persoalan lain adalah jumlah guru yang semakin berkurang karena pensiun dan pengangkatan Guru Kontrak Kerja Individu (KKJ) menjadi CPNS di
sekolah lain sehingga ada beberapa guru terpaksa mengajar rangkap rombel dalam waktu yang bersamaan.
Visi dan Misi
Visi SMALB Model 13 adalah:
“Terwujudnya pelajar Pancasila yang memiliki karakter pembelajar sepanjang hayat, terampil dan kreatif, menghargai keberagaman, serta tangguh dan mandiri berdasarkan iman dan taqwa”
Untuk mewujudkan visi tersebut, satuan pendidikan telah menentukan langkah-langkah strategis yang dituangkan dalam misi sebagai berikut:
• Mengembangkan nilai-nilai religus dan budi pekerti sehingga membentuk pribadi yang berakhlak mulia.
• Menyelenggarakan pembelajaran yang berkualitas sehingga mampu mengembangkan kreativitas dan penguasaan literasi dan numerasi yang mendukung keberadaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat.
• Menanamkan sikap kerja keras, pantang menyerah sehingga menbentuk pribadi yang mandiri dan percaya diri.
• Mengembangkan sikap toleransi, tolong-menolong dan bergotong-royoong tanpa membedakan agama, ras, dan suku bangsa.
• Menyelenggarakan program vokasional yang disesuaikan dengan kemampuan peserta didik dan kebutuhan dalam dunia kerja.
• Menyediakan Pendidik dan Tenaga Kependidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

